.ruang.

untuk semua yang tak terbahasakan

a b o u t b l a n k: Someday

forthesakeofyoureyes:

As days go by and fade to nights
I still question why you left
I wonder how it didn’t work out
but now you’re gone and memories all I have for now
but no it’s not over
we’ll get older we’ll get over
we’ll live to see the day that I hope for
come back to me
I still believe that

we’ll get…

4 months ago - 1

Death

“Death i before me today:
Like the recovery of a sick man, like going forth into a garden after sickness”

“Death is before me today:
Like the odor of myrrh, like sitting under a sail in a good wind”

“Death is before me today:
like the course of a stream, like the return of a man from the war-galley to his house”

“Death is before me today:
Like the home that a man longs to see, after years spent as a captive”

— forgotten poet

Tamasya masa lampau.

Menarilah.
Seperti malaikat dalam mimpi yang berkata ‘hari ini akan ada aku’

‘Apa yang kau tanggalkan satu persatu disana?’

‘Tidak banyak’

‘Sesedikit apa?’

‘Sesedikit pukul 8 pagi hingga 5 sore tiap hari’

‘Itu aku?’

‘Cerita cerita tentangmu’

Kemudian ia pergi. Mungkin tidak akan kembali. Setelah kenangan akan kita yang tercecer dan menetes dari ujung ujung sayapnya.

Dan hari hari itu seperti sejuta cemas. Perlahan lahan seolah terlepas setiap asap terhisap, menusuk paru-paru dalam dalam. Dalam hidup yang berubah. sekadar mengisi ruang. Yang ‘tiada’, diisi diri. Begitu saja berulang hari ke hari.

Di ujung hilang nya.
Aku pun bertanya.

‘Mengapa hidup seperti ini? Kitalah serpihan debu dalam kekosongan terlalu besar’

‘Tidak harus begitu. Aku percaya semua bisa lebih dari itu. Terutama kamu’

‘Lalu kenapa nyata seperti itu?. Hanya menjawab yang bisa terjawab. Tanpa filosofi atau partisi benar salah’

‘Tidak harus begitu. Tanya tidak harus selalu dijawab’

‘Begitu?’

‘Seperti itu’

Kemudian kita terdiam. Aku yang penuh pertanyaan. Ia yang tidak mau menjawab karena tak pernah berani memahami.

Sayangnya itu baik.

‘Apa kau tahu?’

Sentak tanyanya mengagetkanku.

‘Berhentilah bertanya, akan esok atau lusa. Akan apa yang sebenarnya benar. Akan apapun’ ……
……..’Yang kita punya hari ini’

‘Yang kita punya hari ini’

‘Dan hari ini aku mencintaimu. Sebanyak ku tahu kau pun begitu’

‘Kita tak pernah terlihat manis berdua’

‘Bukan itu maknanya’

‘Aku benci pendapatmu. Kamu tahu aku selalu salah. Lalu marah’

‘Kita nikmati emosi dan tangis dengan senyum sesekali’

‘Begitu’……
…….’Mungkin kita bukan enzim yang bercumbu dengan selalu. namun kau mencintaiku?’

‘Seperti mati suri’

‘Maka aku akan selalu hidup di hari ini’

Putri raja dan malaikat senja.

Ada rasa muak di satu titik.
Kau yang tidak disini. kuanggap mati atau seonggok daging terkoyak yang katanya ‘berlari’.
Atau menghancurkan diri.

Putri raja yang jatuh terlalu jauh. Menjadi gumpalan hitam berbau busuk di tepian malam. ‘Dan aku bersenang senang’

Dalih setiap pendosa yang berkeliaran tanpa sadar. Menari-nari meski tahu kecantikan hanya berbatas benang tipis dari gaun lusuh berantakan.

Panggung kosong.
Atau balkon.
Pijar lampu.
Atau jutaan kilat alkohol dalam pandang tiga perempat kabur.
Lalu mual. Lalu muntah. Baik dirimu atau diriku yang melihatnya.

Sang putri,
Mungkinkah kau memilih berdiri dengan kaki kotor hingga ke selangka?
Bukan tiara, dalam peluk mereka yang penuh cinta.

Sang putri,
Mungkinkah selembar potongan sayap malaikat tidak lagi menarik untukmu?
Kanvas kosong itu. Kau relakan bersimbah cairan dibanding peluh warna warni yang hidup di satu hari.

Jika begitu.
Dirimu sebagai kental racun tak lagi pantas untukku.

Hanya menjijikan.

[Flash 9 is required to listen to audio.]

regardthis:

Just know my sweet, you’ll always be my baby.

6 months ago - 32

Senyum.

Senyum.

Bagiku. Engkau adalah wajah keceriaan. Penuh senyum dan harum udara malam yang kulewati ketika kuturunkan kaca untk melihat warna warni di sisi sisi.

Aku takut.

Ketika hubungan itu adalah tanggung jawab. Perih. Sedih. Ketakutan. Pengorbanan. Rela melepaskan. Penantian. Dan setelah ratusan kesedihan yang datang, baru terselip sedikit kesenangan disana.

Itu bagiku.
Apa yang pengalaman ajarkan padaku.

Karena itu aku takut.

Satu langkah saja lagi bersamamu.
Akan memudarkan imaji mu sebagai wujud keceriaan. Senang. Tenang. Tawa. kenangan. Indahnya berjalan bersisian.

Karena itu aku memilih sendiri.

Tak mau bersama. Bukan berarti tanpa hati.

Di sisi

Yang datang. Lalu hilang.

Kalimat kalimat tak selesai, atau begitu banyak kebohongan yang terpaksa dibisikkan.

Itulah hidup. Inilah krona sang mentari malam hari.

Perenungan yang terlalu lelah untuk berakhir. Juangku. Marahmu. senyumku. Tawamu. Serta partikel pecahan dari setiap alur yang kita bangun sendiri akhirnya.

Hingga aku pun menyerah. Ketika kau sadarkanku bahwa kau telah lama begitu.

Aku tahu mungkin terlalu banyak kalimat yang tak pantas lagi diberikan.

Aku pun tahu, mungkin sekarang waktunya kita bertutur kisah baru, cerita nyata tanpa sembab air mata.

Tapi salahkah jika aku kadang mendengar lagi melodimu.

sesekali dalam setiap waktu.

Samadengan stabil

Semasa bocah SMA, yang dibiarkan hancur atau khianat khas mereka yang tanpa tanggung jawab. Tangisnya, teriaknya, atau ketika senyum dan ceritakan sedikit terlalu banyak.

Mereka bilang, hanya kisah bocah labil.

Lalu waktu pun menunjukkan banyak hal. Mengajarkan banyak sakit dibalik kesenangan, atau sedikit harap di setiap akhir.

Mereka bilang, kamu telah menjadi tinggi. Dewasa samadengan stabil.

Ketika tak lagi ku ceritakan keresahan.
Ketika tak lagi ku ledakkan mimpi dan kesenangan.
Ketika tak lagi kutangisi setiap kepergian.
Ketika tak lagi kurasakan warna warni perasaan.
Ketika yang disebut kasih sayang, harus perlahan tumbuh, bukan spontanitas dua setengah jam.

Stabil.

Bukan tentang tidak. Tapi kapan.
Ketika kuceritakan keresahan pada seseorang saja.
Ketika mimpi dan kesenangan ditempatkan sebagaimana mestinya.

Tapi stabil memaksa itu. Melarang air mata. Memaku perasaan. Mencacah cacah warna warni yang diadapat hanya sekejap.

Di ruang kosongku. Aku tidak mau stabil. Aku mau teriak lebih kencang dari sebelumnya. Memukul lebih keras dari biasanya. Membayar masa dimana begitu banyak perasaan tak kututurkan selayaknya.

Dewasa tidaksamadengan stabil.

Mungkin tomat, kentang, atau kangkung itu yang samadengan stabil.

Muak.

Terasing lalu hadir kembali.
Yang mati tak boleh terlalu cepat berlari.

aku menjaga terlalu banyak warna warni. Aku yang mengira diri ini berbeda semakin hari.

Berbeda. Lalu perlahan menjadi bahana. Tidak. Bahkan aku kira diriku spesial meski sekedar dalam makna.

Aku kira.

Selalu aku kira.

Karena ketika yang kucari adalah sedikit perbincangan bersamamu. Kau bisa temukan seratus kata kataku dari sebanyaknya mereka yang mau disampingmu.

Harap akan pengisi hati, Bahkan bukan pengisi hari.

Mungkin rasa itu seharusnya tidak pernah ada. Dibunuh dan tidak pernah diceritakan semenjak sekian lama.

Dibuang saja.

export

guys, i will be using smarahakim.wordpress.com from now. some of my previous writings will also being copied there. thanks, hope you like it.