Menarilah.
Seperti malaikat dalam mimpi yang berkata ‘hari ini akan ada aku’
‘Apa yang kau tanggalkan satu persatu disana?’
‘Tidak banyak’
‘Sesedikit apa?’
‘Sesedikit pukul 8 pagi hingga 5 sore tiap hari’
‘Itu aku?’
‘Cerita cerita tentangmu’
Kemudian ia pergi. Mungkin tidak akan kembali. Setelah kenangan akan kita yang tercecer dan menetes dari ujung ujung sayapnya.
Dan hari hari itu seperti sejuta cemas. Perlahan lahan seolah terlepas setiap asap terhisap, menusuk paru-paru dalam dalam. Dalam hidup yang berubah. sekadar mengisi ruang. Yang ‘tiada’, diisi diri. Begitu saja berulang hari ke hari.
Di ujung hilang nya.
Aku pun bertanya.
‘Mengapa hidup seperti ini? Kitalah serpihan debu dalam kekosongan terlalu besar’
‘Tidak harus begitu. Aku percaya semua bisa lebih dari itu. Terutama kamu’
‘Lalu kenapa nyata seperti itu?. Hanya menjawab yang bisa terjawab. Tanpa filosofi atau partisi benar salah’
‘Tidak harus begitu. Tanya tidak harus selalu dijawab’
‘Begitu?’
‘Seperti itu’
Kemudian kita terdiam. Aku yang penuh pertanyaan. Ia yang tidak mau menjawab karena tak pernah berani memahami.
Sayangnya itu baik.
‘Apa kau tahu?’
Sentak tanyanya mengagetkanku.
‘Berhentilah bertanya, akan esok atau lusa. Akan apa yang sebenarnya benar. Akan apapun’ ……
……..’Yang kita punya hari ini’
‘Yang kita punya hari ini’
‘Dan hari ini aku mencintaimu. Sebanyak ku tahu kau pun begitu’
‘Kita tak pernah terlihat manis berdua’
‘Bukan itu maknanya’
‘Aku benci pendapatmu. Kamu tahu aku selalu salah. Lalu marah’
‘Kita nikmati emosi dan tangis dengan senyum sesekali’
‘Begitu’……
…….’Mungkin kita bukan enzim yang bercumbu dengan selalu. namun kau mencintaiku?’
‘Seperti mati suri’
‘Maka aku akan selalu hidup di hari ini’